Sektor perikanan di Indonesia dikenal sebagai industri yang sangat maskulin. Dominasi pria di sektor tersebut menyentuh 90% dari total pelaku usaha dan tenaga kerja. Padahal, partisipasi perempuan bisa memberi nilai tambah bagi industri perikanan.
Riset sebelumnya di Filipina (2022) menunjukkan bahwa perempuan berperan penting dalam proses penangkapan dan pengolahan ikan, sekaligus mendorong penangkapan ikan secara berkelanjutan.
Bahkan, di Mozambik, nelayan perempuan lebih memilih alat tangkap ikan yang ramah terhadap lingkungan. Praktik ini secara jangka panjang lebih baik bagi ekosistem laut.
Pada bulan Februari hingga September 2025, kami melakukan riset kepada 23 perempuan yang bekerja aktif di sektor perikanan, seperti nelayan ataupun pelaku budi daya.
Riset kami menyoroti tiga halangan utama yang menyulitkan perempuan untuk masuk pada sektor perikanan. Kami juga merumuskan tiga strategi digitalisasi yang dapat mengurai hambatan-hambatan tersebut.
Riset ini kami paparkan pada Kamis, 4 Desember 2025 di acara the Australasian Conference on Information Systems (ACIS) di Australia.
Hambatan utama perempuan di sektor perikanan
Di sektor perikanan, perempuan kerap mendapat stigma identitas yang kuat karena berbagai alasan.
Pertama, ragam profesi di bidang perikanan membutuhkan kekuatan fisik tinggi yang dianggap sulit dipenuhi oleh tenaga kerja perempuan.
Sebagai contoh, dalam budi daya udang, beberapa pekerjaan yang biasa dikerjakan petambak membutuhkan kekuatan fisik yang intens. Misalnya pembersihan sisa lumpur dan residu tambak di dasar kolam.
Kedua, risiko tinggi pekerjaan. Risiko keamanan yang dimaksud adalah lokasi kerja tidak aman, area pekerjaan rawan kecelakaan, dan lokasinya di wilayah terpencil.
Ketiga, keterbatasan akses pengetahuan mengenai praktik perikanan. Profesi di bidang perikanan, contohnya nelayan, biasanya merupakan profesi yang ditekuni turun-menurun dalam keluarga.
Solusinya adalah digitalisasi
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi bisa digunakan untuk menepis stigma terhadap perempuan. Ada setidaknya tiga solusi yang kami tawarkan.
Pertama, perempuan dapat memilih jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan kekuatan fisik tapi masih sangat diperlukan di sektor ini.
Contohnya, pos analis laboratorium air. Jenis pekerjaan ini tidak membutuhkan kekuatan fisik yang besar, tapi sangat diperlukan pada industri perikanan budi daya.
sumber : https://theconversation.com/digitalisasi-sektor-perikanan-bisa-menghapus-stereotipe-ketidakpiawaian-perempuan-271007
0 Comments