• Gedung Hanurata, Jl. Kebon Sirih No. 67, Jakarta Pusat
  • Whatsapp08134475889
  • E-mail admin@cir.or.id

Riset: baik di dunia nyata maupun di dunia maya, anak muda Indonesia memiliki toleransi beragama tinggi

Jan 13, 2021 Rilis Media

Beberapa kota  besar di Indonesia termasuk dalam kota-kota yang intoleran menurut lembaga studi SETARA Institute. Sejauh mana keputusan itu ditentukan dalam sikap anak-anak mudanya?

Sejak 2015, lembaga studi SETARA Institute rutin mengeluarkan laporan skor toleransi kota-kota di Indonesia.

Studi itu adalah satu dari sekian banyak penelitian dalam dua dekade terakhir yang memetakan dan mengukur perkembangan kualitas toleransi di Indonesia sebagai upaya deteksi dini kemungkinan berkembangnya intoleransi.

Pada 2018, SETARA menamakan Jakarta; Sabang dan Banda Aceh di Aceh; Medan dan Tanjung Balai di Sumatra Utara; Padang di Sumatra Barat; Cilegon di Banten; Depok dan Bogor di Jawa Barat; dan Makassar di Sulawesi Selatan sebagai 10 kota dengan skor toleransi terendah .

Meskipun penelitian SETARA ini tidak khusus dilakukan remaja sebagai objek studi, namun penelitian itu menunjukkan potensi intoleransi di kalangan remaja yang terjadi di beberapa kota di Indonesia.

 

Apakah anak-anak muda di kota termasuk intoleran yang memiliki sikap berbeda dengan mereka yang di kota toleran?

 

Untuk menganalisis sikap di generasi muda, saya dan tim meneliti sosial Generasi Z, atau sering disebut juga “Centennials” , baik di dunia nyata maupun di dunia maya, di kota-kota yang mengukur toleransi dan intoleran.

 

Studi kami menunjukkan bahwa di manapun mereka berada, menciptakan Centennials sangat mendukung toleransi beragama baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam aktivitas media sosial.

 

Baik di kota toleran maupun yang intoleran

Kami tahun lalu mengumpulkan data dari 1.854 responden berusia 17-25 tahun lewat kuesioner yang dilakukan di 10 kota toleran dan tidak toleran menurut riset SETARA.

 

Lima kota pertama adalah kota-kota yang pada 2017 masuk kategori intoleran SETARA yaitu Banda Aceh, Padang, Mataram di Nusa Tenggara Barat, Makassar, dan Yogyakarta.

 

Lima kota lain adalah yang dikategorikan toleran, yaitu Salatiga dan Surakarta di Jawa Tengah; dan Binjai, Pematang Siantar, dan Tebing Tinggi di Sumatra Utara.

 

Survei tersebut kami sebar di sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah agama (madrasah aliyah, sekolah Islam, sekolah Kristen) yang umumnya di daerah perkotaan yang menjadi fokus studi Setara Institute. Latar belakang sosioekonomi responden kami sangat beragam mulai dari ekonomi bawah sampai ekonomi menengah ke atas.

 

Namun yang jadi persamaan adalah kehidupan Generasi Z kental dengan aktivitas internet. Mereka adalah “ digital natives ” yang sejak dini dapat diandalkan dengan perangkat teknologi informasi dan berselancar di dunia digital.

 

Oleh karena itu, kami juga meneliti apakah ada perbedaan sikap toleransi beragama mereka antara di dunia nyata dan interaksi di internet.

 

Berdasarkan temuan kami, anak muda bisa menghabiskan waktu 3 hingga 5 jam per hari untuk dapat diandalkan di internet, khususnya di media sosial.

 

Meski secara luas, bahwa media sosial memiliki manfaat yang luar biasa untuk generasi muda, namun tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial juga memiliki efek berbahaya termasuk kemungkinan meresapnya nilai intoleransi dan radikalisme .

 

Mayoritas responden kami mengungkapkan sikap toleransi terhadap pemeluk agama lain, khususnya di lingkungan pertemanan, lingkungan, dan organisasi.

 

Tren toleransi yang sama ditunjukkan oleh anak muda di media sosial.

 

Mayoritas responden (62%) sangat toleran terhadap topik yang berkaitan dengan agama yang berbeda dengan keyakinannya di media sosial. Mereka pernyataan yang menyinggung agama lain.

 

 

Menanggapi kami berada konsistensi perilaku Generasi Z di dunia nyata dan di dunia maya: di kedua ranah tersebut, mereka menunjukkan toleransi terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan.

 

Ini berbeda dengan sikap kelompok usia yang lebih beragam (responden berusia 17 tahun ke atas) dalam studi Lembaga Survei Indonesia dan Wahid Institute tahun 2019.

 

Studi itu menunjukkan tren intoleransi, khususnya yang terkait pembangunan rumah peribadatan, pelaksanaan ibadah di lingkungan sekitar rumah ibadah, dan pemilihan pemimpin.

 

Toleransi responden kami terhadap latar belakang suku yang berbeda juga tinggi.

Sebanyak 85% merasa nyaman berteman dengan responden yang berbeda dari etnis; 87% responden mengatakan memilih untuk bergabung di grup sosial media yang anggotanya berasal dari etnis yang beragam.

Masa depan toleransi

Studi kami menunjukkan bahwa Centennials – baik yang tinggal di kota toleran maupun tidak toleran menurut SETARA Institute – open to A and works same with them that berbeda agama dan etnis secara langsung maupun lewat internet.

Sikap Generasi Z juga menunjukkan bahwa bahwa antar etnis telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Karena sikap toleransi ini ada di kalangan anak Indonesia, maka ini memberi kita harapan bahwa sikap-sikap ini akan terus berlanjut di masa depan.

 

Sumber : https://theconversation.com/riset-baik-di-dunia-nyata-dan-dunia-maya-anak-muda-indonesia-memiliki-toleransi-beragama-tinggi-151716

One thought on “Riset: baik di dunia nyata maupun di dunia maya, anak muda Indonesia memiliki toleransi beragama tinggi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X