November 2025 ini, temuan riset lintas 27 negara Eropa mengungkapkan fakta bahwa monolingualisme (kemampuan seseorang berkomunikasi hanya dalam satu bahasa) dapat mengurangi lima tahun angka harapan hidup. Sementara multilingualisme (kemampuan seseorang menggunakan beberapa bahasa) menambah tiga tahun lebih lama. Artinya, semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin kuat perlindungan bagi otak.

Penelitian tahun 2020 juga telah membuktikan bahwa orang bilingual menunjukkan gejala Alzheimer empat tahun lebih lambat ketimbang orang monolingual. Alzheimer adalah penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, melemahnya kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku.

Aktivitas berganti-ganti antara dua bahasa menciptakan semacam cadangan pada kapasitas kognitif manusia. Kapasitas tersebut berkaitan dengan daya ingat, konsentrasi, bahasa, dan sebagainya.

Kemampuan-kemampuan ini memungkinkan kita merespons rangsangan. Dengan kata lain, orang dengan cadangan kognitif yang lebih besar akan lebih tahan saat penuaan menggerogoti fungsi otaknya.

Artinya, multilingualisme bukan cuma soal keterampilan, tapi juga ramuan awet muda yang menjaga otak tetap aktif sehingga dapat memperlambat penuaan.

Di Tanah Air, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menciptakan masyarakat yang multibahasa secara alamiah. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keragaman bahasa. Ada lebih dari 300 suku dan lebih dari 700 bahasa daerah yang digunakan di seluruh Nusantara.

Individu yang tumbuh di Indonesia biasanya memiliki bahasa ibu—bahasa yang diperoleh pertama kali—berupa bahasa daerah, misalnya bahasa Batak, Minangkabau, Sunda, dan lain-lain. Mereka biasa menggunakan bahasa ibu tersebut dalam lingkup keluarga atau di tempat tinggalnya.

Selain itu, mereka akan menggunakan bahasa kedua (bahasa yang didapatkan melalui pembelajaran), misalnya bahasa Indonesia. Bahasa ini diperoleh secara formal di sekolah dan digunakan melalui praktik komunikasi antaretnis sehari-hari.

Kemudian, banyak orang Indonesia juga belajar bahasa asing—bahasa yang dituturkan secara resmi di luar Indonesia—contohnya bahasa Inggris di sekolah. Bahasa ini umumnya menjadi bahasa ketiga.

Sementara itu, bahasa asing lain, misalnya bahasa Prancis, Jerman, Arab, dan sebagainya, akan menempati posisi berikutnya sebagai bahasa keempat, kelima, keenam, dan seterusnya.

Memang, untuk memudahkan identifikasi, para ahli ilmu bahasa (linguis) sering menyamaratakan semua bahasa yang dipelajari setelah bahasa ibu sebagai “bahasa kedua”.

Dalam praktiknya, seorang siswa di Indonesia bisa saja mempelajari bahasa daerah lain sebagai bahasa kedua, terutama jika ia bersekolah di luar wilayah bahasa ibunya.

Jangan karena terpaksa
Otak adalah pusat kendali tubuh, yang menjaga seluruh fungsi vital. Gaya hidup sehat memastikan fisik tetap bugar. Sementara belajar bahasa baru menjadi latihan penting untuk menjaga otak tetap aktif, tajam, dan tahan terhadap penuaan.

Meski demikian, faktor sosial, ekonomi, dan kontekstual tak kalah dominan dalam menentukan keberhasilan pembelajaran bahasa kedua, khususnya menyangkut manfaat resep awet muda.

Tim peneliti mengamati bahwa mereka yang belajar bahasa asing di negara-negara Eropa, pada umumnya, adalah orang-orang berpendidikan lebih tinggi, memiliki akses dan jejaring luas, serta bergaya hidup sehat.

Namun demikian, hasil riset tersebut juga menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari belajar bahasa tidak berlaku pada imigran yang merasa terpaksa belajar dan juga perempuan dalam ketidaksetaraan gender.

Kondisi belajar di bawah keadaan stres, tekanan, dan keterpaksaan justru dapat meniadakan manfaat kognitif. Sebaliknya, hasil terbaik muncul bila bahasa kedua dipelajari sejak muda dan digunakan secara terus-menerus dengan kondisi yang kondusif.

Tak heran, pembelajaran bahasa kedua yang diwajibkan di sekolah juga kerap tidak mencapai hasil optimal.

Karena itu, ruang belajar yang sehat dan mendukung perlu diciptakan di tengah masyarakat, agar setiap orang dapat menikmati proses belajar bahasanya.

Belajar bahasa kedua karena dorongan pribadi (motivasi internal) akan lebih efektif, membahagiakan, sekaligus memperkecil risiko penuaan dini, daripada sekadar memenuhi tuntutan eksternal.

 

sumber : https://theconversation.com/semakin-banyak-menguasai-bahasa-semakin-kecil-risiko-penuaan-dini-270164

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *